Tag Archives: Usia

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتَِ

image

Ketika ku berpulang

Maka sirna semua yang telah ku punya

Harta tiadalah guna

Rupa tiadalah arti

Namun amal dan ridhoMu lah pangkal harapan

Telahkah langkah ini terpaut akan jalanMu

Apakah hati ini hanya tertuju pada CintaMu

Andai mengingat maut itu mudah

Maka takkan ku lupa mudah saja esok aku telah tiada

ku Angkat kedua tangan ini mengadu

ku tundukkan kepala ini mengharu

ku Ingat semua dosaku

Yang tak terhitung seperti butir pasir di alam-Mu

Ya Rabbi izzati Maafkanlah hambaMu Jadikan keberkahan meliputi hidupku

(Octaviana Wulandari| Ana_Zahidah| Octanasquarepants| Muhasabah, 31 Desember 2014)

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Menghafal Al-Qur’an Tak Kenal Usia

Begitulah judul Seminar Internasional yang saya berkesempatan untuk turut serta menyerap sebanyak-banyaknya ilmu yang diberikan. Pertama dan yang utama haruslah kita mensyukuri nikmat yang begitu banyak yang diberikan Allah ta’ala yang telah menghadirkan sarana dan kemudahan di zaman kini untuk menjadi muslim sesungguhnya. Alhamdulillaah.

Menghafal Al-Qur’an Tak Kenal Usia yang digelar di Bekasi, 31 Mei 2014 dimulai jam 08.00 – 15.00. Banyak hal yang menarik dan harus diteladani dari hasil seminar ini yang rasanya sulit untuk sekedar ditulis, untuk itu beberapa point yang bersifat teknis saja akan dishare disini. 😎

Berbicara mengenai usia maka tepatsekali dengan judul di atas dimana acara ini menghadirkan banyak manusia biasa (as we are) yang berjenjang mulai dari anak kecil hingga lansia yang mampu menghafal Qur’an, so why we can’t?

 

Syaikh Al Mukarromah – Hilya Aulia – dr. Abdillah

  1.  Syaikh Karamallah bin Assyaikh bin Abdillah dari Sudan (Wakil Direktur Munadzomah Al Ma’ah Al Khairiyah Sudan dan Pemegang Sanad Al Qur’an Qira’ah Sab’ah)

Syaikh kelahiran 18 April 1986, sudah hafal 30 juz Al-Qur’an sejak usia 15 tahun. Dan beliau lah yang menemukan metode 40 hari menghafal Al-Qur’an yang kini banyak diadopsi termasuk Indonesia dalam bentuk karantina. Beliau memaparkan bagaimana metode yang digunakan di Sudan berhasil mencetak penghafal Al-Qur’an dalam waktu 40 hari. Kalau didengar memang metode ini mengajak kita ke dalam kondisi yang tidak nyaman, memang pada dasarnya untuk sekedar menikmati buah kebahagiaan maka kita harus keluar dari comfort zone dan berjuanglah! Well begini metodenya.

Di suatu tempat yang special beliau menyebutnya kholwah. Tempat dimana karantina diadakan disana kita bisa bercumbu hanya dengan Al-Qur’an berkonsentrasi penuh dan focus. Adapun syaratnya penghafal sudah baik bacaannya dalam artian benar dan sesuai kaidah tajwid, mempunyai mushaf dan alat tulis. Yang terpenting adalah selama di karantina dilarang menggunakan alat komunikasi, televisi dan media lainnya. Adapun waktu silaturrahim untuk menghubungi keluarga adalah hari Jumat dari jam 08.00-11.00.
03.00 : Kegiatan pagi dalam Kholwah  dimulai, menulis target I apa yang ingin dihafal.

  1. 03.00-05.30 : Menghafal surah yang sudah ditulis di dalam target I
  2. 07.00                : Menyetor hafalan yang sudah dihafal sesuai target I tadi dan menulis hafalan target II (melanjutkan hafalan sebelumnya)
  3. 07.00 -08.00 : Istirahat, bersih diri,bukan makan besar melainkan hanya minum teh
  4. 08.00-11.00 : Waktu yang dipergunakan untuk menghafal target II
  5. 11.00 – Adzan Dzuhr : Tidur Siang
  6. Antara Dzuhr – Ashar : Membenarkan bacaan, setelah selesai kemudian makan siang
  7. Antara Ashar – Maghrib : Muttalaq, diberikan contoh oleh syeikh bacaan mana yang kurang kemudian diulangi oleh penghafal
  8. Maghrib – Isya : Tasmi’ hafalan yang telah dihafal di hari sebelumnya
  9. 20.00 – 23.00 : Setelah makan malam, Thawaf (berputar mengelilingi) dengan muroja’ah minimal 7 juz untuk yang sudah hafal 7 juz
  10. Tidur

Nb :

a. Menulis target hafalan maksudnya adalah menulis di kertas surah apa dalam bahasa arab (menulis ulang apa yang akan dihafalnya dari Al-Qur’an ke kertas)

b. Tidur siang sunnah Rasulullah adalah sebelum Dzuhr

c. Teknik muroja’ah dengan berputar atau berkeliling adalah salah satu upaya untuk menggunakan semua panca indera.

2. Hilya Aulia, 6 Tahun (Juara 1 Hafidz Qur’an Indonesia)

Tak ada yang instant, begitu juga melahirkan seorang anak yang super ini, memiliki hafalan 9 juz di usia 6 tahun dan menjadi jawara di Hafidz Qur’an Indonesia. Pada kesempatan ini ummi nya memberikan testimoni, yang paling menyentuh dan diingat adalah pernyataan bahwa beliau sudah memberikan Al-Qur’an Qonita selama di kandungan

“Selama mengandung saya memberikan hadiah untuk janin saya setiap hari 1 juz dan khataman Al-Qur’an setiap bulan”

Begitu juga saat balita, saat menyusui, menyuapi bermain dan aktivitas lainnya dengan Qonita, beliau selalu mengiringinya dengan Al-Qur’an. Dengan komunikasi Al-Qur’an, seakan Qonita merekam semua yang diajarkan beliau selama di kandungan hingga bisa berbicara maka yang pertama kali terucap oleh Qonita adalah surah Al-Qur’an. Subhanallaah. Mudah saja beliau memancing Qonita “Ayuk nak baca surah An-nas, dipancing dengan 1 ayat kemudian Qonita bisa melanjutkannya di usia balita.

3. dr. Faisal Abdillah Shahib dari AMT Makassar (Direktur Pelaksana Al Qur’an Memorization Training dan Alumni Dauroh 40 Hari Menghafal Al Qur’an)

dr. Abdillah Shahib merupakan salah satu alumni dari Dauroh menghafal Al-Qur’an di Sudan tahun 2013 yaitu Dauroh yang dibina oleh Syaikh Karamallah bin Assyaikh bin Abdillah. Ada yang cukup mengharukan dari kisah dokter yang sibuk memiliki klinik binaan ini, sudah lama rasanya dr. Abdillah memiliki tekad untuk menggenapkan hafalannya menjadi 1 Al-Qur’an 30 juz selalu beliau memohon pertolongan bagaimana mencari celah waktu untuk dapat focus dan bermujahadah menghafal kalamnya. Dengan do’a dan tekad akhirnya beliau mendapatkan kabar dari adik ipar yang sedang menempuh pendidikan di Sudan yang mengetahui akan diadakannya dauroh ini, bi’idznillah semua urusan dr. Abdillah di Indonesia diselesaikan dan memohon do’a restu dari Ibu dan tentu istri dan anak-anaknya. Cukup sulit menempuh izin dari Ibu, tutur beliau. Hingga suatu hari masih dengan upaya yang sama dr. Abdillah bilang ke Ibu

“Ibu, Ijazah ini untuk Ibu. Ijazah ini jauh lebih hebat dari pada ijazah kedokteran saya yang pernah saya berikan untuk Ibu”

Dengan sambil terisak Ibu mengizinkan. Dari tekad inilah seusai berhasil dan pulang ke Indonesia saat ini dr. Abdillah menjadi salah satu penggagas dauroh di Indonesia 40 hari menghafal Al-Qur’an seperti di Makassar, Jogja, Bogor dan daerah lainnya. Singkatnya, metode yang digunakan mengadopsi metode dari Syaikh Karamallah bin Assyaikh bin Abdillah yang kurang lebih dapat dilihat dari gambar ini (versi 30 hari).

 


 

Tentulah banyak pilihan untuk merealisasikan tekad dan cita, kembali semua keputusan ada di kita akan memulainya atau masih menundanya? Nasehat dari Ustadz Bachtiar Nasir, Lc, MM yang juga merupakan Keynote Speaker Seminar ini, sangat mengena tentang kesibukan dunia.

Alasan yang paling rasional untuk menghafal Al-Qur’an adalah SIBUK. Maka katakanlah kepada diri Anda, Saya harus jauh lebih sibuk dengan Al-Qur’an dibandingkan kegiatan yang lainnya.

Selamat menghafal dan semangat Istiqomah. Karena hidup bukan sekedar tumbuh, berkembang, layu dan mati. 😎

(ana zahidah – octaviana wulandari – ODOL (One Day One Line) #2)