Bukan Habibie Ainun

image
Foto Studio Ibu dan Babeh,Jogja 23/12/1985

 

 

Kisahnya tak sesendu Habibie Ainun

Pun tak semerdu Cinta Sejati Habibie Ainun

Tapi manisnya kenangan melebihi Habibie Ainun

Anggun, mereka menyebutnya Anak Gunung Kidul. Kelahiran atas gunung bagian dari Ngayogyakarta yang selalu dikira sebagai kota. Mungkin dulu banyak yang tak mengenal Gunung Kidul atau sebut saja Wonosari. Tapi kini, setiap lebaran datang bukan kendaraan kami saja yang menuju atas gunung untuk bertemu dengan sanak keluarga tercinta, tapi ratusan kendaraan berplat B pun menanjak ke gunung demi untuk wisata ke Gunung Kidul.

Tak pentinglah seberapa orang mengenal Gunung Kidul atau wonosari, yang terpenting aku mengenalnya  2 precious human in my life. Babeh dan Ibu. Menjadi bagian dari kisahnya yang tak selalu sempurna bak kisah Romeo and Juliet. Atau tak juga sesedih kisah Hachi yang lama mencari ibunya. Tapi, kami selalu merasa sempurna ketika mendengar kembali kisah hidup beliau dalam merubah hidup. Entahlah, apa kisah hebat ini hanya dimiliki oleh orang dulu saja.

Si mbah kerap bercerita, Dulu anak-anak mbah pergi hanya dengan selembar tas kresek yang berisi baju bermodal raga tapi kini, mereka pulang dengan kesejahteraan. 

Pun yang beliau berdua alami, anak gunung yang sekolahnya jalan kaki puluhan KM. Bahkan Ibu kerapkali sekolah dengan digendong si mbah kakung karena begitu kelelahan padahal udah SMA 😀 Atau cerita Babeh yang harus memburu ular di sawah untuk dijual, untuk beli apa? Bensin! Ya, karena saat itu motor adalah barang mahal dan untuk membeli bahan bakarnya pun harus berjuang ekstra, kalau tidak ya motor hanya menjadi barang antik yang dipajang di rumah.

Babeh pun sejak SMP sudah ngangon kambing, yang dimulai dari bukan miliknya hingga berhasil memiliki sendiri. Sedangkan SMP kita saat ini sudah melakukan apa? 😦 Bahkan beliau sudah cerita ribuan kenangan masa dulu yang tak sanggup ku ceritakan kembali karena lupa.

Sedang kisah cintanya, tak kalah romantis dan terbilang unik dari kebanyakan kisah melegenda. Babeh selalu menyematkan tangggal yang dibentuk hati dan panah seperti gambar di bawah ini, tulisan ini ditulis tepat di belakang foto berdua mereka saat itu :D. Melihat kembali goresan tangan dan goresan hati beliau, membuatku sadar bakatku ternyata terlahir dari beliau. Siapa yang tak meleleh dibuatnya, beliau menuliskan

Kenangan yang cukup mengenangkan dan mengerikan. 23/12/85

image
Tulisan Babeh di belakang foto, tertanggal 25/12/85

Tanpa basa basi, tanpa berpikir bagaimana nanti. Ada keyakinan yang mendalam bahwa menikah adalah solusi terbaik untuk mandiri dan hijrah membentuk kehidupan baru yang lebih baik. Ibu (19th, 02 Februari) dan Babeh (23th, 09 Oktober) yang saat itu Anak Gunung Kidul ini berani untuk menduduki Ibu Kota, Jakarta. Hingga kini, semoga sampai terpisahkan hanya dengan maut saja bersama anaknya Andika Pratama, A.Md (03/Oktober/89), Octaviana Wulandari, S.KM (05/Oktober/1991), Anita Anggraini (12/07/95) kita akan tetap merangkai cerita manis, pahit, duka dan gembira. Entah apapun rasanya bahkan sampai pun mati rasa asal bahagia bersama.

Jogja, Oktober 1988
Jogja Oktober 1988

Posted from WordPress for Android

Advertisements

3 thoughts on “Bukan Habibie Ainun”

  1. karena saya anak desa, jadi masa kecil saya tak kalah seru. Saya masih bisa menikmati permainan tradisional, melihat indahnya alam, dan merasakan masa kecil yang tak terganggu oleh limpahan teknologi seperti sekarang. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s