Garam Kesabaran

image

Saat senja kala itu, ia bertanya padaku “Octa tau ga. kalo rezeki itu pd hakikatnya mendatangi kita.. jauuh jauuuh sebelum kita lahir”

Hem, aku terdiam sejenak. Mencermati tiap kalimatnya. Bagaimana ia telah datang ketika kita belum saja dilahirkan.

Seperti sebutir garam yg Allah takdirkan untuk memberikan rasa asin di lidah octa pada senja ini…

Apa? Aku terbangun dari lamunan, masih saja sulit untuk mendapat apa yang dimaksudkan. “Maksudnya? Bagaimana bisa? Kenapa garam? Rasa?” tanyaku semakin penasaran.

Kemudian dengan sabar ia menceritakan dengan sangat runtut, sedang aku disini lagi lagi tak berkutik.

Jauuuh jauuuh sebelum octa lahir, garam itu sudah d ciptakan, di samudera hindia… beberapa ratus tahun kemudian dia bertanya ‘y Allah, kapan aku akan dipertemukan dengan octa, untuk menunaikan tugas ku’ ?

Allah menjawab, ‘tunggulah sebentar lagi’

Dia pun terbawa arus… sampai di teluk malaka. Terbawa ombak, sampai di laut jawa sampai ke laut merak, banten, dia masi harus diolah. Kemudian dikristalkan l di suralaya (banten) setelah menjadi kristal, dia dimasukkan ke dalam karung.

Setelah itu dia diangkutlah ke Jakarta, sesampai ny di Jakarta, dia di tumpuk di sentra garam. Dan pemasok bahan bahan pokok, bapak X, yg berjualan d pasar bekasi mengambil si garam itu.

Sesampai nya di rumah, bapak X menumpuk si garam di gudang nya, ternyata persediaan garam ibu octa masih dua bungkus. Si garam pun bersabar lagi.

Sampai pada suatu pagi, ibu Octa kehabisan garam saat bikin sayur asam. Akhirnya pergilah ibu octa ke pasar. Dan si garam yg sudah berjuta juta tahun yg lalu itu, sampai di tangan ibu.

Setelah dimasukan dalam sayur, si garam bersorak ‘alhamdulillah ya Allah, sebentar lagi aku akan segera memberi rasa asin pada lidah octa’ beberapa menit kemudian, jadilah sayur asam yang dihidangkan di atas atas meja makan.

Dan octa masi sholat ashar, 10 menit kemudian kamu merasa lapar dan berjalan ke meja makan, duduk kemudian mengambil piring serta mengambil sesuap sayur.

si garam pun bertahmid

‘ya Allah… akhirnya.. Engkau izinkan aku memberikan rasa asin pada lidah octa… dengan ini aku telah menunaikan tugas ku dr berjuta juta tahun yg lalu…’

Karena betapapun jalan penantian itu berat namun telah dijanjikan akan nikmat.

Darinya yang mendapatkan kisah ini langsung dari ustadz Salim A Fillah ketika bedah buku, Di Masjid tercinta Nuruzzaman | Saudariku Syifa Husnul Khotimah, atlet Jujitsu, dokter hewan wannabe, Pedjoeang Santika |

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s