Penggugur Dosanya

Kabar sakit mu sudah lama ku dengar. Setiap arisan selalu Ibu menanyakan kabar mu dari Ibu tiri mu. Dan tak jarang membuat ku teriris setiap mendengar kabar demi kabar darimu, mulai dari keadaan yang semakin buruk atau tingkah ngeyel mu untuk sekedar memperhatikan tubuh mu yang tidak biasa itu.

Dia sebut saja bang Rifki yang namanya bertahun tahun mungkin sudah lama tak ku sebut, tetangga lama ku yang kini terpisah ruang karena aku dan keluarga pindah ke rumah ini jauh dari rumah lama ku yang dulu kita sering main bersama saat kecil.

2 tahun belakangan ini kabarnya berbeda, kabar demi kabar yang ku dengar semua berisi tentang sakitnya. Aku tak tahu pasti apa penyakitnya yang salah satunya adalah gagal ginjal. Dan ada satu penyakit yang merupakan Carrier dari almarhumah Ibu yang sekarang juga menggerogoti tubuhnya.

Ah bukan bang Rifki jika dia hanya berdiam diri, ngeyel dan nekat itu cirinya meskipun ia sedang sakit.

Dan semoga ibu tiri dan ayahnya senantiasa bersabar menasihati dan merawat nya.

Entah keputusasaan atau optimis yang terbenam dalam benaknya. Tak jarang ia ngelantur, pernah suatu hari ia menelepon seluruh teman teman nya dan berkata aku pamit ya. Ah hati siapa yang tak remuk mendengar nya.

Tak henti dari sana saja, tepat 2 hari yang lalu bang Rifki datang ke rumah. Dengan mengucap salam dan linglung menatap sosok wajah yang bengkak dan kondisi tangan,kaki yang hanya tulang berbungkus kulit Ibu bertanya
Ibu : wa’alaykumussalam, iya dengan siapa ya?
Rifki : Ibu, lupa dengan saya?saya Rifki bu,ada dika nya?
Ibu : Masya Allah, nak Rifki? Dika belum pulang kerja. Kamu sendiri? Mau kemana?
Rifki : ini bu,keliling ke rumah teman mau pamitan.

Tak banyak bicara, ia lalu pamit dan melanjutkan perjalanan. Mas yang setelah itu sampai rumah, dapat ku lihat rautnya berubah drastis baru ini aku melihatnya murung dan sedih.

Lantas malam itu juga kami bertiga (aku,mas dan adik) ke rumah bang Rifki tetapi sayangnya rumah tertutup rapat dan terlihat sudah istirahat.

Dan baru malam tadi mas kembali menjenguk dan tak lama berbincang di rumah, ia mengajak mas untuk makan di luar. Setengah was was mas menuruti permintaannya, karena mas khawatir makanan apa yang tidak boleh dimakan olehnya dan kuasa lagi lagi mas lemah ketika mendengar bang Rifki hanya bilang ah lebay lo,biasa aja gue sehat. Bagaimana sehat ketika mas sangat memperhatikan ketika ia makan bergemetar tangan nya, ketika terasa sedikit saja berlebihan ia minum ia lantas segera memuntahkan nya.

Ah semua itu membuat ku yang hanya mendengar ceritanya teriris. Mudah saja ya Rabb Engkau mengakhiri sakitnya dengan mengangkat sakitnya, tapi bang Rifki dengan kesabarannya masih diberikan kekuatan untuk menjalani sakit yang menjadi penggugur dosanya.

Syafakallah syifa’an ‘ajilan la yughodiru ba’da usaqaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s