Kasih Ibu

Belakangan hari ini di rumah terasa sangat sepi, bukan tak berpenghuni ditinggal sendiri. Tapi,karena satu orang saja yang tetap ada menyertai tapi tak ramai seperti biasanya. 


Dia adalah Ibu, iya hari-hari tanpa ceriwis Ibu adalah keanehan yang ganjal. Tak ada lagi ceriwis Ibu mengingatkan larutnya malam yang terkadang tak buat ku tidur, ceriwis karena telatnya sarapan, ceriwis karena makan sedikit dan ceriwis lainnya 😦  

sepi, memang 2 hari ini Ibu sedang digugurkan sebagian dosanya. Tepat siang itu Ibu tiba-tiba panas sekujur tubuh dan aku yang berada di rumah langsung menelepon dokter untuk datang memeriksa. Kasihan melihat Ibu lemas,bahkan tak bersuara akibat batuk yang juga dideritanya. Rasanya sudah lama sekali tak melihat Ibu sakit seperti ini. Tapi semoga Ibu diberikan kesabaran dan lekas sembuh.

Syafakillah syifa’an ‘ajilan laa yughodiru ba’da usaqoman 

 

Sembari menemani Ibu dan sesekali aku mengelus pipi hangatnya, aku teringat di masa aku jatuh sakit. Dan membuatku begitu terbawa ke masa lampau itu. Bagaimana tidak, selama aku di kota rantauan 4 tahun lamanya, setidaknya aku mengalami sakit 2 kali yang cukup mengkhawatirkan Ibu saat itu.

Betapa tidak dahsyatnya Ibuku, jarak Jakarta – Surabaya mudah saja ia tempuh hanya untuk anaknya. Iya,tak lebih dari 2 jam mudah saja Ibu menghampiriku melintasi 2 provinsi berbeda. Demi anakku, Itu yang Ibu katakan berkali-kali saat aku mengkhawatirkan Ibu kenapa jauh jauh datang ke tempat ku merantau saat sekolah.

Ah Ibu mungkin sekarang kau sakit juga sebab terlampau lelahnya mengurus anak anakmu walaupun kami telah dewasa, pikiran bergeliat menghantui angan mu akan mimpi kami yang belum tercapai.

Saat itu, memang hanya 2 kali dimana aku mengaku sakit karena aku tidak kuat menahannya. Dan akhirnya kau pun datang, di sakit pertama memang ada kelainan hasil lab yang membuat ku drop dan harus bed rest. Di saat itulah kau tak hiraukan urusan rumah dan berminggu minggu demi aku kembali pulih kau menemani ku tanpa aku tinggalkan kegiatan sekolah ku. 

Tapi lain hal terjadi di saat kedua ku sakit, yang saat itu aku ingat betul kau datang Ibu di saat malam, aku khawatir namun kau bilang maaf ya anakku,Ibu ikut penerbangan malam. Sabar ya nak. 

 lagi-lagi aku merepotkan Ibu,tapi sungguh aku tak kuat. Jika aku kuat mungkin akan aku sembunyikan sakit ini seperti sakit sebelumnya yang memang ku sembunyikan dari Ibu agar Ibu tak khawatir. Hal yang berbeda dari sakit dan kedatangan Ibu kedua ini adalah tidak ada hasil yang mengganjal dari hasil laboratorium ku. Semua normal kata dokter, dan teman teman hunian ku semua senada mengatakan aku fresh ketika Ibu datang. Ah, memang aku rindu Ibu saat itu. Cukup 3 hari Ibu menemani ku di kota rantauan aku sudah cukup fit untuk kembali beraktifitas.

Aku yang sibuk dengan agenda akademik maupun non akademik membuat ku terlampau jarang pulang. Cukup kiranya aku pulang 2 kali selama 1 tahun dan itu terjadi per 6 bulan sekali.

Jadi,cukup logis lah bila salah satu sakit ku adalah karena rindu. Dan kedatangan Ibu adalah pelipur laraku. Saat Ibu sedang sakit maupun sedang fit beliau selalu ada untuk anak-anaknya.

Renungan ku cukup membuat ku menambah cintaku padanya saat ceriwisnya terlebih saat sakit nya aku akan selalu ada seperti selalu adanya engkau untuk anakmu. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Kasih Ibu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s