SD Asmaul Husna

Seperti pagi biasanya, lantunan nama IndahNya menggema mengisi seisi ruang. Indah, menggema merasuk juga dalam diriku. Bagaimana tidak, hanya Allah yang memiliki 99 nama yang bukan sekedar nama melainkan sifat yang terpatri di dalamnya.
Ku

Abu Hurairoh reported Allah’s Messenger (May be peace upon Him) as saying : there are ninety nine names of Allah’s : he who commits them to memory would get into Paradise. Verily Allah is Odd (He is one and it’s an Odd Number). Andai He loves an Odd numbers. And in the narration of Ibnu Umar (the words are) “He who enumerated them”. – Muslim Ibnu Al Hajjaj Nishapuri Shahih Muslim

Seakan memang sepatutnya lah kita hafal dan menghafal terlebih memahami 99 nama Allah. Belum juga berhenti menggema Asmaul Husna dari handphone ku tiba tiba lamunan ini membawaku saat ada di salah satu desa di Madiun tahun lalu.

Aku yang menjadi salah satu surveyor dalam research project pendidikan dan kesehatan saat itu bertugas untuk mengevaluasi sistem pendidikan di suatu SD Negeri di salah satu Desa di Madiun.

Tepat kiranya jika aku mengatakan sekolah pelosok, bagaimana tidak di tengah jalanan rusak dan dalam lingkungan yang kecil SD itu berdiri. Bahkan bukan sekolah Negeri disebutnya aku lupa semacam sekolah veteran atau apa masyarakat menyebutnya.

Bukan karena terpencil bukan karena jumlah sedikit siswa disana yang menjadi poin dimana aku terheran dan haru dibuatnya. Pagi itu untuk kedua kalinya aku mengunjungi SD itu, sengaja aku datang sebelum jam sekolah yaitu 06.30 am karena aku khawatir mengganggu jam kerja kepala sekolah saat itu. Di kunjungan kedua ini aku tak butuhkan waktu lama,karena beberapa poin telah selesai. Kurang lebih 45′ berlalu tepat 7.15 aku keluar ruangan kepala sekolah dan menuju ke halaman sekolah, ada pemandangan yang menarik.

Disana aku lihat OB sekolah sedang membawa kotak kecil bernama sound system diletakkan di posisi strategis di tengah seluruh kelas aku yang kala itu seharusnya pulang dan menuju parkiran menghentikan langkah.

Penasaran apa yang akan dilakukan oleh OB itu, karena hari itu bukanlah senin dan tentunya tidak ada jadwal upacara. Setelah memastikan letak sound system sudah dapat menjangkau semua kelas yang ada, berbunyi lah bel masuk kelas. Tak lama sound system itu berbunyi.

Terdengar Arab, lantunan arab yang ku kenal dan familiar tapi seakan lupa aku sejenak mengingat ingat lantunan lagu apa ini. Dan ketika masuk di Ya Rahman Ya Rahim, aku terhenyuh 😦 bagaimana bisa seluruh siswa di masing-masing kelas seakan berlomba menyebut asmaNya mulai dari kelas ruangan kelas 1 hingga 6. Suara mereka menggema tidak hanya memenuhi seisi sekolah tapi juga mewarnai lingkungan kecil padat penduduk itu dengan asmaNya tiap hari.

Aku berjalan dengan kelamunan ku ke arah guru yang sedang di depan ruang kelas,aku menyalaminya dengan penuh hormat dan setelah ku tanya perihal ini beliau menjawab memang ini kami lakukan setiap pagi,membiasakan siswa mendengar Asmaul Husna dengan harap mereka hafal dengan sendirinya tanpa paksaan. Dengan begitu kami juga mengharapkan kelancaran dalam belajar siswa.

Ah aku melangkah pamit dengan haru, sekolah negeri yang penuh dedikasi yang sadar akan pentingnya bekal dan dasar ke Islam-an ternyata masih ada walaupun di pelosok negeri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s