Metamorfolife

Sayangnya, kita kerapkali sulit sekedar menyadari bahwa waktu terus bergulir tanpa kendali. Semua serba lho, lho kok sudah jam segini, lho kok sudah tanggal segini, lhosudah tahun baru atau lho lho yang lainnya. Kita seakan terbawa dengan kenyamanan keseharian kita, yang terkadang lupa untuk hanya sekedar merenungi apa yang telah kita torehkan sekian masa kita diberi kesempatan. 😦

Ah that’s life, kemudahan demi kemudahan yang Allah beri justru membuat kita lalai. Atau bahkan kita lupa dengan uzlah yang selama ini kita pelajari. Sunyi dalam keramaian, dan ramai dalam kesunyian. Makna yang mendalam tersimpan terhadapnya, bagaimana kita me-manage hati untuk sekedar memiliki waktu bercumbu kepada Yang Maha Memiliki Cinta. Termasuk kepadanya me-muhasabah diri yang mana yang perlu ditinggalkan, diperbaharui atau ditransformasi.

Ini bentuk dari lho yang dipaparkan diatas.

Perasaan baru saja kemarin beranjak dewasa, lho tahu-tahu sudah wisuda.

————————3———————

Berbicara mengenai metamorfosa hidup rasanya tinta sebanyak lautan tidak cukup untuk menggambarkannya. Hanya syukr Alhamdulillaah ekspresi yang paling tepat saat mengingatnya kembali. 😉  wanna know?

Usia 2 tahun mengaji. Foto diatas lengkap baju muslimah berwarna kuning (kyak spongebob ya) adalah saat dimana usiaku 2 tahun. Berbusana muslim rapi semangat ingin pergi mengaji. Ada yang unik, saat masa ini. Pertama, Aku dan kakaku kerap datang terlalu pagi, tepat ba’da shubuh kami sudah diantarkan si mbak pergi ke TPA dan seringkali pula kami “diusir sementara”. Ibu Ustadzah bilang “waduh nak, pak ustadz masih mau mandi, ke Masjid dulu ya nak”. Baiklah saat itu aku (usia 2 th) dan si mas (usia 4th) beranjak ke Masjid yang tidak jauh dari rumah pak ustadz. Bayangkan! Semangatnya yang begitu luar biasa membawa kami mudah saja untuk berangkat mengaji. Dan hal yang unik kedua, alias memalukan sampai saat ini aku bertemu dengan pak ustadz adalah saat dimana aku pipis dicelana alias ngompol. Aduuh betapa malunya aku saat itu, aku yang tergolong masih sangat kecil dibandingkan teman yang lain, kerapkali membuat repot pak ustadz termasuk menggendong aku keluar dan menyuruhku pulang. 😥 seketika ibu ustadzah dengan sigap mengepel lantai, hehe (tak sanggup mengingatnya). Ketiga hal yang unik adalah aku menjadi salah satu murid kesayangan pak ustadz, bayangkan apa rasanya saat aku dipuji sementara kakakku dipukul penggaris didepanku karena masih kurang lancar atau ada hal yang salah dalam melafadzkan huruf hijaiyah.

Usia SD aku berhijab. Lain dari yang lain, ketika kebanyakan orang berhijab di lingkungan sekolah namun dilepas saat di rumah. Hal itu berkebalikan denganku. Di sekolah, aku sama dengan teman-teman yang lain yang 100% dari kami tidak ada yang berhijab. Namun, ketika di rumah aku sangat begitu nyaman ketika main di lingkungan tetangga menggunakan hijab. Hijab segi empat untuk anak usia SD dan main karet alias jingkrak-jingkrakan dengan jilbab anggun yang ku pakai dengan apiknya. hhe Entahlah, bahkan saat itu aku belum mengetahui jika hijab adalah kewajiban. Aku hanya tahu saat itu aku sangat nyaman mengenakannya. Walaupun terhambat seragam sekolahku yang tidak panjang dan aku tidak mengatakan ke orangtua bahwa ingin mengenakan hijab, jadi saja aku mengenakan hijab saat di lingkungan rumahku saat main dengan teman-teman. Bahkan saat aku di kelas 5 SD aku sempat mengatakan kepada adiku, ketika ada muslimah cantik dengan baju taqwa yang syar’i aku tiba-tiba mengatakan “Dek, lihat itu? nanti mbak klo sudah dewasa in shaa Allah menjadi seperti itu”. Adiku mengangguk mengamini

Usia SMP aku berpaling. Memang betul ketika dikatakan usia remaja awal adalah masa eksistensi dan pencarian diri, aku adalah bagian dari RESPAD (Resimen Pelajar Andalan) salah satu ekstrakulikuler di SMP yang terkenal, disegani, dan banyak yang mengincar menjadi bagian darinya. Bagaimana tidak, salah satu ekskul paskirbraka ini selain menandingi ekskul Pramuka, paskibraka salah satu organisasi kesayangan kepala sekolah saat itu karena kami banyak mendapat penghargaan dari perlombaan kota maupun kabupaten. Aku, semenjak mengikuti ekskul ini seakan aku lupa dengan masa kecil dan SD ku yang saat itu sangat penuh dengan semangat mengeja cinta-Nya. Aku menjadi salah satu anggota inti dalam setiap pengiriman perlombaan, tiap ahad aku tidak pernah di rumah demi melakukan latihan rutin kami, lari 7 keliling lapangan, jalan jongkok sebelum makan, dan kegiatan fisik rutinan lainnya. Namun, apa korelasinya dengan hati saat itu? Iya, eksistensiku saat itu menjadi hal yang utama ku pertahankan. Setiap angkatan tak ada yang mengenalku karena aku kerap kali menjadi tim pengerek bendera, atau sekedar menjadi pengawas penurunan bendera ketika upacara sore. Ah, saat itu style rambut pendek, rok pendek, kaos kaki setumit menjadi kebiasaanku setiap hari. Adapun hal yang paling ku ingat sampai saat ini adalah ketika itu rok ku termasuk yang paling panjang dari teman-temanku di satu pleton. Namun, saat itu aku pernah ditegur dengan salah satu pelatih “Besok lagi, rok semua harus diatas lutut. karena akan mengganggu gerak langkah dan tidak seragam jadinya”. Memang tak ada gejolak hati saat itu, karena memang aku telah lupa dengan konsep idealku sebelumnya yang menginginkan menjadi muslimah. Dan waktu berlalu hingga aku terlena dengan pangkat dan statusku saat itu, menjadi paskibraka sekolah.

to be continued …metamorfolife

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s