Kado Ukhuwah

Kado Ukhuwah

Too hard to leave

Too wonderful to forget

Bermula dari sebuah pertemuan yang tak pernah terkira. Allah yang menghantarkan pada suatu waktu yang indah. Pertemuan itu berbekas hingga kini. Aku pun tak pernah ingat, sejak kapan kita berjumpa. Saat kapan kita mengenal. Sampai kita merasa nyaman tak sekedar menjadi sahabat tapi terlebih saudara dunia wal akherat insyaAllah. Betapa tidak, perbincangan kita tak lepas dari amunisi dakwah. Mulai dari pembinaan untuk diri sendiri, hingga beramal untuk sekitar dengan agenda besar lainnya.

Dulu ia telihat begitu angkuh, sering ku amatinya walau ia mungkin tak pernah mengetahui aku. Atau hanya mengenal sebatas nama. Namun, aku telah mengetahui lebih banyak yang ia kira. Mulai dari pertemuan papasan kita ketika berangkat menuju kampus. Aku berjalan kaki, ia mengendarakan motor. Dengan gaya bermotornya, semakin meyakinkanku bahwa karakternya tak jauh dari yang telah ku duga selama ini. Tegas, tak bertele-tele, disiplin, dan sedikit angkuh atau “masa bodo teuing” bahasa daerahnya. Ya, ada yang benar atau mungkin salah semua dari kenyataan. Yang pasti, berkat pengalaman dan banyak track record ku selama ini dalam menganalisis seseorang kemungkinan missedhanya sedikit –gaya–. Entah ini pengakuan atau over confident. Tapi dengan bakat ilmiah ini aku jadi mudah memahami karakter orang dan menyusupi diri menjadi bagian hidup mereka.

Dia, tak sama dengan kebanyakan orang yang ku temui sebelumnya. Outlier, yup itulah kiranya gambaran yang pas ketika ku sekedar berkenalan dengannya. Tertutup awalnya, sampai akhirnya perbincangan kita berlanjut walau bermula hanya di pesan singkat kala itu. Dengan gaya bicaranya yang sangat bertolak belakang denganku, sempat putus asa di kala itu. “Ah, orangnya kasar sms ga pernah pakai emot, to the point banget ga asik”. Itu komentarku saat perbincangan kita bermulai di pesan singkat. Namun, entah mengapa walau tak ada yang berubah dulu hingga kini tetap sama tetapi kenyamanan itu justru tercipta. Masih pada perbincangan awal dulu justru ia yang terlihat penasaran terhadapku karena beberapa hal dari perbincangan kita banyak yang click terhadapnya hingga ia banyak bertanya “kok bisa tau? Darimana? Kok pas? Kamu ini siapa? Daaan blab la bla”. Ku jawab ringan dengan gaya canda, “aku ini titisan candradimuka penerawang sesuatu dan seseorang”. Tapi, tetap pada gayanya ia terkadang marah atau merasa tidak puas terhadap pengakuanku –karena aku pun bingung pengakuan seperti apa yang harus aku akui–.

Tambah bingung dan rumit, karena berawal dari kerumitan itu hingga kini terajut persaudaraan yang tiada terkira indahnya. Allah menuntunnya. Banyak hal diawal dulu dengan berbagai prinsip yang ada ia kemukakan, bukan hal yang salah dan bukan juga yang benar. Yang pasti semua bisa dibicarakan. Ada yang tidak bisa mendengar ada yang justru menjudgement tapi aku tidak pada keduanya. Hanya membiarkan cerita berlalu dengan kenyamanan bercerita semua berjalan dengan indah atas kuasaNya dan do’a yang tak hentinya tercurah padanya.

Hingga tak heran ta’liful qulb ini begitu kuat. Banyak waktu ketika aku hanya terlintas benak untuk ingin bertemunya, di jalan tak lebih dari 10’ Allah mempertemukan kita, dengan melempar senyum berpapasan sambil berkendara. Di lain waktu ketika malam kita mengirim pesan singkat karena lama tak jumpa, namun di pagi harinya dengan tidak sengaja kita sarapan bersama. Apa ini kebetulan? Silahkan saja jika ada yang berpikiran seperti itu, tapi ku masih yakin bahwa tiada yang berkebetulan karena Allah selalu melihat, Allah bersama prasangka hambaNya, atas kehendakNya.

Tak banyak bicara, hanya aksi yang ia perlihatkan sebagai bentuk kasihnya. Senyumnya singkat, pelukan yang rekat cukup membuat persaudaraan ini begitu melekat. Memori kala itu sudah tersimpan baik di dalam kotak kenangan hati ini, tak mampu terluapkan karena Allah sudah menjaganya akan tetap indah. Hanya syukur yang ku haturkan kepada Allah yang telah meghantarkan pertemuan indah ini yang ku harap hanya maut yang menghapus memori kita kelak.

Hari ini tepat 24 Maret 2013, atlet, akademisi, mahasiswa berprestasi, aktivis itu usianya telah bertambah yang dengannya ia akan menambah kemanfaatan dirinya untuk banyak hal terutama RabbNya. Tetap berjuang saudariku, I love u as always here.

 Untuk Renita Efa Ratna Sari

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s