Ayah

Mengekspresikan cinta dengan cara yang tak pernah ku duga

Meluruhkan air mata dari setiap kata cinta

Mengingatkan masa ku dimana angkuh diri menjadi utama

Mengecewakan mu tapi engkau tak pernah murka

Mencinta dalam ketenangan sikapnya

Memberi teladan dalam setiap geriknya

Ialah Ayah

(Oct. W Mengingatmu dalam doa 15/10/12)

Beruntung sekali dilahirkan dari bibit seorang ayah yang tiada duanya 🙂 dan semua anak pasti merasa bahagia memliki ayah yang spesial bagi mereka. Spesial menurut ku dan kalian tak akan pernah sama tapi bahagia yang kita rasa akan sama, sama-sama merasakan indahnya cinta tulus darinya really thanks to Allah.  

Begitu banyak kisah hidup yang menggambarkan cinta dari seorang ayah, mungkin ia tak seperti ibu yang selalu dapat mengungkap cinta dengan lugas. Tapi caranya selalu membuatku takut kehilangan sosoknya.

It’s Wonderful

 Ayah, saat itu engkau menemani hari sekolahku tes dari sekolah satu ke sekolah lainnya. Sampai akhirnya aku mendaftar di SMA yang cukup favorite di Masa Itu SMAN 1 Tambun Selatan. Dulu yang boleh mendaftar adalah siswa berprestasi di SMP tapi aku hanya nekat dengan modal berasal dari kelas unggulan. Engkau bilang, semua orang berkesempatan yang sama. Berusaha pasti kita bisa. Dan benar saja tes aku lalui dan tentu saja saat itu engkau yang menemaniku bahkan hingga selesai kau tunggu aku di halaman sekolah. Keluar dari ruangan tes aku menyalaminya dan hanya senyum yang ia beri padaku sambil bertanya “bisa ya nak?”.
Engkau tak pernah absen untuk sekedar mengambil rapotku dari kelas X-XII walau saat SMP engkau juga kerapkali mengambilnya. Mendengar cerita tentangku dari wali kelas ku adalah hobimu, dan dengan senyum termanismu kau bagi cerita itu pada ibu. Alhamdulillah anak bapak pintar. Itu komentarnya.

Tak terasa 3 tahun begitu cepat berlalu, saatnya aku meninggalkan masa sekolah menuju dunia kampus menjadi MAHAsiswa. Masa SMA pun ku tutup dengan seremonial sekolah “wisuda” tentu lagi-lagi engkau hadir saat itu dengan pakaian terbaikmu 🙂 namun sayang aku belum membuatmu lega, karena saat itu teman-teman satu per satu dipanggil kepanggung untuk mendapat tanda selamat telah diterima di Universitas Negeri, namun walaupun aku mendapat ucapan selamat dan dipanggil ke panggung saat itu aku tak benar merasa bahagia karena saat itu aku diterima di Universitas Swasta yang walaupun bagus dan terkemuka tapi aku tidak berniat disana “Bakrie School Management”

Beberapa kali gagal tes masuk Universitas dari segala pilihan jalur masuk UM, UMB, dll engkau tetap setia disana untuk mengantarkanku,mendaftar, menunggu, kemudian melihat hasil. Ya, tidak ada beda dari berbagai hasil yang ku dapatkan saat itu “maaf Anda belum diterima”. Dan engkau tetap sabar dan memotivasiku di kala itu.

Sampai saatnya aku jengah, dan ku tak menyerah untuk mencoba tes pintu masuk negeri terakhir SNMPTN. ya saat itu adalah saat pertama kalinya engkau tak menyertai perjuanganku, karena aku terlampau malu terhadap kegagalan-kegagalan masa itu. Akan indah masa pada waktunya itu adalah janji Allah. Dan ternyata Allah mengijabah. Saat itu tak ada yang tak shock saat dimana aku menyampaikan kabar gembira ini kepada keluargaku. Ibu, saat itu menangis dan tak menerima kelulusanku. Seakan kehilangan seorang anaknya ibu, tak mau aku jauh darinya. Ibu terdiam, menangis, mogok makan, tak rela aku jauh. Sedangkan Ayah, tak ada ekspresi lebih darinya selain tersenyum, dengan komentarnya yang selalu sedikit “Gpp, namanya juga untuk menuntut ilmu. Jauh ga masalah selagi kualitasnya bagus” mencoba tegar walau aku tahu, raut wajahnya juga sedih, namun ia tetap menguatkan aku dan ibu.

——————————–oooo0oooo—————————————-

Kini, jauh dekat cinta engkau tetap sama.

Dalam jauhku kerapkali telpon masuk darimu yang ku tunggu

Sekalinya engkau telpon hanya sebentar karena takut mengganggu waktu kuliahku

Padahal aku tak pernah merasa terganggu

Namun getaran suaramu mengisyaratkan saat itu kau telah rindu aku

Ayah, engkau yang rela menungguku berlama-lama di stasiun dalam kepulanganku 1 tahun 2 kali

Bahkan jauh 1 jam sebelum aku sampai engkau sudah standby di parkiran stasiun

Namun, demi menjemputku dalam jarak dekat engkau rela berdiri menunggu di selasar stasiun

Tapi tak jarang kereta ku telat namun engkau tetap sabar menunggu

Begitu melihat ku senyummu terlontar untukku

Seketika itu merebut koperku untuk dibawanya

Dan tak lupa ku cium telapak tangannya dan engkau mencium keningku

Ya Ayah, itu kan tanda cintamu yang tak pernah kau ucap

Saat waktunya ku kembali menuju medan akademik ku

Kecupan di kening itu yang menghantarkan ku pulang

Tanpa kata hanya salam dan seketika itu engkau pergi menjauh dari kereta ku

Begitu banyak, air mata ini tumpah mengingat semua cintamu untukku

Sedangkan, aku disini masih belajar mengeja untuk sekedar mengatakan “aku juga sayang ayah”

Tak ku biarkan waktu membuatku menyesal

Aku ingin menjadi insan yang dapat membuatmu bahagia dunia akherat

Dari anakmu.

i love u

i love u more

i love u most

Ayah

Advertisements

One thought on “Ayah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s